Menemukan Surga Tersembunyi di Timur Lewoleba

Tiga tahun lalu kaki saya pertama kali menginjak Lewoleba, dan sejak itu saya terus mencari sudut-sudut yang tak terjamah turis. Kota pelabuhan kecil ini menyimpan banyak cerita di balik pemandangan lautnya yang biasa dijadikan latar foto. Suatu pagi, seorang nelayan berusia senja membisikkan rahasia tentang air terjun tersembunyi di balik bukit kapur. Tanpa pikir panjang, saya menyusuri jalan setapak yang nyaris tak terlihat.
Air Terjun Batu Raim: Permata yang Terlupakan
Empat puluh menit berjalan kaki dari pinggiran kota, suara gemericik air mulai memandu langkah. Melewati kebun cengkeh warga dan jembatan bambu reyot, tiba-tiba terhampar pemandangan menakjubkan. Air terjun setinggi 20 meter jatuh ke kolam alami berwarna hijau toska. Batu-batu besar berlumut membentuk kolam kecil di sekitarnya. Saya langsung merebahkan diri di atas batu yang hangat, menikmati percikan air segar. Tak ada seorang pun selain saya, hanya kicau burung dan desau daun.
Pemilik warung kecil di dekat situ bercerita, tempat ini sempat dapat perhatian pemerintah desa beberapa tahun lalu. Tapi sekarang hanya orang-orang penasaran seperti saya yang mau repot datang. Sambil menyeruput air kelapa muda, saya menyaksikan perempuan-perempuan desa menenun songket khas Lembata. Motif geometris berwarna tanah itu memikat hati. Akhirnya saya membawa pulang selembar tenunan seharga Rp150.000 - harga yang sangat wajar untuk karya tiga hari.
Ke Batu Raim memang tak ada petunjuk jalan resmi. Saya hanya mengandalkan arahan warga dan peta offline. Bagi yang mau mencoba, siapkan air minum cukup dan pakai sepatu anti licin. Medan berbatu kapur bisa bahaya kalau habis hujan. Tapi percayalah, semua lelah terbayar saat berdiri di depan air terjun yang sunyi itu. Waktu seperti berhenti, udara terasa lebih bersih.
Pulangnya saya mampir ke pasar tradisional Lewoleba. Pisang raja, ubi jalar, sampai kopi bubuk hasil kebun gunung berjejer rapi. Seorang ibu menawarkan kopi pahit hangat cuma lima rebu rupiah. Duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi, saya merasakan denyut kehidupan kota yang jarang tersentuh kamera.
Buat backpacker yang cari pengalaman autentik dengan budget minim, Lewoleba punya segalanya. Transportasi lokal nggak sampe seratus ribu sehari. Penginapan sederhana mulai dari Rp150.000 semalam. Yang dibutuhkan cuma keberanian jelajah dan kemauan ngobrol dengan warga.
Air terjun Batu Raim mungkin tak akan masuk peta wisata dalam waktu dekat. Tapi justru di situlah pesonanya. Di tempat yang sepi ini, saya menemukan kedamaian dan cerita yang nggak bisa dibeli dengan uang.
